Pagi ini jam pelajaran olahraga, setelah selesai
pemanasan seperti biasa kami diizinkan bebas, yah.. namanya anak laki-laki
pasti yang dipilih hanya ada dua, kalau gak basket yah futsal.
Deni mengambil bola futsal di ruangan guru,
Sementara yang cowok pergi ke lapangan, yang cewek kembali ke kelas buat ganti
baju. Kebetulan sekali jam pelajaran olah raga kami bersamaan dengan jam
pelajaran kelas adik kelas. Jadi kami bisa adu tanding dengan mereka.
Tidak seperti anak cewek di kelas kami, anak cewek
dari kelas mereka ikut menonton dan menyemangati. Mereka duduk di luar lapangan
dan meneriaki teman-temannya.
Saat ini skor 2-0, kami unggul dua angka dari
mereka, aku yang di posisikan sebagai striker
berhasil memberikan 1 gol ke gawang lawan. Permainan semakin seru sampai
akhirnya kecerobohan ku memakan korban. Tendangan ku yang begitu keras dan
energik mengenai seorang cewek yang duduk di luar lapangan. Dia pingsan di
tempat, dan teman-temannya segera mengerumuninya.
”Elo sih, gak hati-hati nendangnya Rev” sindir Riki
”Aduh gimana nih bro?” Tanya ku panik.
”Yaudah, lo bawa aja dia ke UKS” jawab Eko.
Segera aku memasuki
kerumunan itu, sedekit meminta bantuan dari teman-temannya, aku menggotongnya
menuju ruang UKS. Wajahnya yang putih bersih begitu lugu dalam keadaan tak
sadarkan diri.
Siapa gadis ini? Sepertinya
aku gak pernah melihatnya selama ini, mungkin dia murid yang baru pindah. Setelah tiba di UKS, dia pun di baringkan
di tempat tidur yang tersedia disana.
Karena merasa bersalah,
aku terpaksa menunggunya sampai sadarkan diri, sedangkan teman-temanku yang
lain asik melanjutkan pertandingan. Di temani dengan beberapa teman ceweknya,
aku duduk di samping tempat tidurnya.
”Kak Revin gak lanjut main futsal lagi?” tanya seorang cewek.
”Gak, kakak mau nunggu dia siuman dan minta maaf.” jawabku.
”kamu kok kenal dengan kakak?” tanya ku balik.
”Siapa sih yang gak kenal kakak? kakak itu populer loh di sekolah, apa lagi
di kalangan cewek-cewek. Sering banget yang bicarain kakak.” jelasnya panjang
lebar.
”Ooh gitu.” jawabku ringkas.
Setelah jawaban ku itu,
mereka berbisik-bisik dan tersenyum. Mungkin ada yang lucu dari jawabanku.
”Kak, kami keluar dulu yah. Jam olahraga hampir selesai, kami mau ganti
baju. Jangan di apa-apain yah kak teman kami, soalnya dia anak baru kak.” ujar
mereka seraya berjalan ke arah pintu.
”Yaudah...” jawabku
Ternyata benar tebakanku kalau dia anak baru, aku
masih punya waktu ganti baju, karena setelah pelajaran olahraga, guru kimia
kami tidak hadir dikarenakan keluar kota. Tak lama bel pun berbunyi beriringan dengan
sadarnya si anak baru ini.
Dia terbangun dan segera
memaksa bangkit dirinya, ternyata dia lebih cantik setelah sadarkan diri.
Seketika dia melirik ke arah ku.
”Kakak siapa?” tanya nya.
”Ya Tuhan... dia amnesia !!!” ujarku dalam hati.
”Kakak siapa?”
”Nama kakak Revin, kakak yang menendang bola ke arahmu. Maafin kakak.. tapi
kamu gak amnesia kan?” tanyaku sedikit grogi.
”Hahaha.. kakak lucu yah... Nama ku Nova kak. Iya gapapa kok, kan gak
sengaja.” jawabnya dengan tawa kecil yang sungguh manis.
Berat ku akui, tapi dia
lebih cantik dari pada Dinda, padahal selama ini aku merasa Dinda adalah cewek
yang sudah sangat sempurna. Matanya bulat dan berkilau bagai permata, bibirnya
yang tipis menyempurnakan senyumnya, dan lesung pipitnya membuat ku semakin
menambah rasa kagum akan kecantikannya.
”Braakkk!!” Suara pintu yang dibanting dari luar dan memecahkan lamunanku.
”Nova kamu gapapa kan???” teriak orang itu.
Berat ku percaya kalau itu
adalah Dinda, dia disini bersamaku. Tampaknya dia kenal dengan anak baru ini.
”Aku gapapa kok kak, hanya sedikit pusing karena kena hantaman bola.”
”Syukurlah kalau begitu, mendengar berita tentang mu membuat kakak tidak
tenang di kelas.”
Aku hanya terdiam
mendengar percakapan mereka, aku hanya bisa melihat dua orang gadis cantik yang
sedang berbincang di hadapanku. Apa hubungan mereka? seingatku Dinda tak punya
adik perempuan. Terlalu asik memandangi mereka, tiba-tiba Dinda melirik ke
arahku dan perlahan mendekat.
”Plaakkk” Sebuah tamparan mendarat di pipiku.
Aku tak mampu bergerak,
tubuh ku kaku mendapat kejutan yang tak ku duga-duga. Tangan lembut seorang
Dinda menampar keras pipi kiriku, sekejap pipiku menjadi kemerahan dan sakit.
”Itu balasan karena kamu udah berani nendang bola ke arah Nova.” bentaknya.
”Kak... udah lah jangan berlebihan gitu, kak Revin gak sengaja kok.” Bujuk
Nova.
”Maafin aku Din, ini salahku.” ujarku lesu seraya membenarkan posisi
kacamataku.
”Kamu pantas dapatkan itu.”
Dinda segera membawa Nova keluar ruangan, aku
masih tertegun karena tamparan tadi. Setelah sekian lama akhirnya kami
berbicara kembali, walau di buka dengan sebuah tamparan keras dari tangannya.
Hari itu menjadi sebuah
kejutan tersendiri bagiku, sepulang sekolah aku seperti biasa bareng dengan
Angga dan sedikit bercerita tentang kejadian apes yang menimpa ku tadi pagi.
Angga tertawa mendengar
Dinda menamparku, tapi dia juga tak tau siapa gadis bernama Nova itu. Dia
menawariku untuk bertanya ke Dinda tentang Nova, tapi aku menolaknya. Aku
khawatir emosi Dinda tadi akan menimbulkan kecurigaannya padaku.
Malam harinya kejadian itu
menjadi pengusik saat aku mencoba memasuki dunia khayalku. Tamparan Dinda masih
terasa baru di pipiku, Gadis bernama Nova itu terus menghantuiku dan
bertanya-tanya siapa dia? Mungkin dia kerabat Dinda yang baru pindah. Tapi kenapa Angga tidak mengenalnya?
Pertanyaan-pertanyaan mulai memenuhi pikiranku.
Beberapa hari berlalu
setelah kejadian itu, akhir-akhir ini aku merasa ada orang yang mengawasiku.
Sejak kapan aku punya sikap paranoid seperti ini? Aku juga tak tau.
Hari itu sangat terik, aku berjalan ke kantin sendirian,
tanpa sengaja lagi-lagi aku harus berurusan dengan gadis kenalan Dinda itu. Aku
tak sengaja menabraknya dan dia terjatuh.
”Eh maaf...” Ujar ku.
”Gapapa kak.” jawab Nova mengambil bungkusan snack ringan yang terjatuh.
Dia bangkit dan tersenyum,
matanya yang bulat perlahan menghipnotisku, senyumannya membuatku tak kedip
memandanginya.
”Woii..” Teriak Angga menepuk pundakku.
”Eh, lo Ngga, ngagetin aja”
”Siapa nih Vin? Gebetan baru lo?” ujarnya ngawur.
”Apaan sih lo, ini yang namanya Nova.”
”Hai kak, salam kenal.” sahut Nova dengan wajah lugunya.
”Hai, nama kakak Angga, kakak temannya Revin dan Dinda.” jawab Angga sok
cool.
”Kak, Dinda udah cerita kok.”
Ada yang aneh dengan Gadis
ini, dia begitu istimewa. Yah.. begitulah yang ku rasa, apa mungkin dia mencuri
hatiku yang selama ini untuk Dinda?? Tidak!! Ku yakinkan diriku dengan
tegasnya.
Malamnya sebuah nomor
asing masuk ke telfonku, ”Assalamu’alaikum kak” begitulah isinya. Ku jawab
salamnya dan ku tanya siapa ? beberapa saat aku menunggu jantung ku berdegup
keras, ternyata Nova. Entah dari mana ia berhasil mendapatkan nomor handphone
ku.
Sejak saat itu Nova rajin
SMS-an dengan ku, sedikit-sedikit aku bertanya seputar Dinda padanya dan dia
menjawabnya dengan suka rela. Jujur saja, aku merasa nyaman berbincang dengan
dirinya, seperti ada daya tarik tersendiri dalam dirinya. Ternyata dia adalah
adik sepupu Dinda yang selama ini ada di luar kota. Wajar saja Angga tak
mengenalnya.
Aku mungkin tertarik pada
dirinya, tapi tak bisa ku pungkiri cinta ku tetap milik Dinda. Nova juga tau
hal itu, ternyata Dinda pernah cerita padanya. Berarti tak ada yang perlu aku
khawatirkan tentang kedekatan kami.
Setiap pelajaran olahraga kami bertemu, dia ada di
tepi lapangan untuk melihatku. Ah.. mungkin aku terlalu ke GR-an.
Teman-temannya terlihat iri ketika aku menghampiri dan duduk di sampingnya, aku
jadi akrab dengannya sejak kejadian tendangan nyasar waktu itu.
Deni, Daka, dan Riki jadi sedikit melebih-lebihkan
keakrabanku dengan Nova, tapi semua itu tak dapat ku tepis. Karena kedekatanku
dengan Nova, aku jadi bisa berhubungan baik lagi dengan Dinda, tapi siapa yang
menyangka kalau ia akan meminta ku untuk bicara berduaan dengannya. Dia memintaku menemuinya di Caffe dekat
sekolah kami. ”APA INI KENCAN??” teriakku dalam hati.
Dia begitu cantik hari itu, dengan penampilan
fashionable berhiaskan jilbab hijau yang di pasang ala cewek jaman sekarang. Aku tak menduga akan duduk berduaan dengannya
di tempat seperti ini, aku beranjak dan memesan minuman untuk kami berdua.
Saat itu aku gugup, walau hubungan kami sudah
lebih baik tetap tak bisa ku sangkal hati ini tertuju pada dirinya. Dia lah
satu-satunya gadis yang aku cintai. Sebagai pembuka pembicaraan Dinda meminta
maaf padaku karena telah menampar pipiku dengan sangat keras saat di UKS, tentu
aku maafkan.
Aku tak menyangka akan mendapat moment ini lagi,
Tuhan !! terimakasih atas kesempatan ini. Semua kebahagiaan ku itu tak mampu ku
ekspresikan, aku hanya bisa diam dan bersikap sok cool di depan gadis impianku
ini.
”Aku senang kau akrab dengan Nova.” ujarnya mendadak.
”Emangnya kenapa Din?”
”Gapapa, sudah lama aku gak melihat senyumnya seperti itu. Dia sangat
bahagia berada di dekatmu, aku yakin kamu juga sadar dengan hal itu.”
”Eeh.. iya tapi kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu?”
”Tak apa, aku hanya bahagia melihat senyuman Nova yang telah lama
hilang.” ujarnya seraya mengaduk-aduk
jus dengan sedotan.
”Pasti ada sesuatu yang belum kamu beritahukan padaku Din?”
”Tak ada! aku yakin kau juga tau kalau Nova sudah jatuh cinta padamu sejak
pertama kali ia melihatmu, ia tertarik dengan kepribadianmu. Seperti cewek-cewek lain yang tertarik
padamu.”
”Aku emang menduga seperti itu, tapi apa maksudmu dengan senyumannya?”
Seketika Dinda merundukkan
kepalanya, kini wajah indahnya terhalangi jilbab hijau yang ia kenakan. Dinda
menangis, ya.. dia menangis, tapi kenapa?
”Kamu gapapa Din?” tanyaku sok perhatian.
”Berjanjilah Rev, kalau kau akan selalu membuat dia tersenyum seperti saat
ini.”
”Iya Din, aku janji. Tapi kenapa??”
”Rev, yang kamu tau saat ini Nova adalah gadis yang sangat ceria dan
periang. Ya,. Hanya itu yang kau tau.”
”Kenapa dengan Nova, Din?”
”Rev, kamu harus tau, dia sangat lemah.”
”kenapa Din? Tolong katakan yang sebenarnya” paksaku.
”Nova menderita sakit jantung.”
Jdeeerr!!! Kalimat itu
seakan menyambar hatiku yang sedang bahagia saat ini. Aku sangat terkejut
mendengar hal itu dari Dinda.
“Dia sangat membutuhkan donor
jantung untuk mempertahankan hidupnya,, dia menderita kelainan jantung bawaan,,
sejak kecil dia sangat menderita dengan penyakit ini, dan menginjak umur 15
tahun ini kondisinya semakin parah,, bahkan kata dokter dia harus segera
mendapatkan donor paling tidak 2 bulan ini, tapi tentu gak semudah itu Rev.
mencari donor jantung sangatlah sulit… kau tau itu.” Jelas Dinda panjang lebar
sambil terus meneteskan air matanya.
“Din, jangan menangis lagi. Aku paham
sekarang.” Bujuk ku.
“Saat aku mendengar dia akan
kembali ke kota ini, aku sangat gembira. Tapi semua itu sirna saat dia jujur
padaku tentang semua itu. Dia yakin waktunya tak lama lagi, dia pesimis dengan
harapan hidupnya, maka dari itu sebagai permintaan terakhirnya dia ingin
bersekolah di tempat aku sekolah.”
Aku
tak kuasa menahan air mataku, setelah mendengar penjelasan yang sangat panjang
itu dari Dinda. Aku sudah berjanji!! Ya, aku tak boleh mengingkarinya, tapi aku
tak bisa mendustai perasaan ku kalau aku mencintai Dinda.
Ku
lepas kaca mataku dan ku husap air mata ini, aku berdiri dan berkata.
“Din, aku berjanji !”


0 komentar:
Posting Komentar