Ku pandang keluar jendela bundar yang
sedikit lebih besar dari kepalaku, terlihat hamparan awan putih bagaikan taman
surga yang membentang begitu indahnya disepanjang perjalananku.
Sudah lama
semenjak aku lulus sekolah, aku tidak pernah lagi kembali ke tempat dimana aku
tumbuh besar dan jatuh cinta untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Itu
semua karena faktor pekerjaan ayahku yang mengharuskanku ikut pindah
bersamanya. Tapi kini usiaku sudah 21 tahun, dan ayahku sudah mengizinkanku
untuk mengarungi samudera kehidupan ini sendirian.
Tentu
saja tidak benar-benar sendiri, di kota ini aku akan tinggal bersama keluarga
pamanku yang dulu sering ku singgahi semasa aku dan keluargaku masih tinggal di
kota ini. Aku tak sabar melihat wajah mereka mengingat telah lama waktu dan jarak
menjadi pemisah kami semua.
Di
antara deretan kursi kelabu kekuningan ini muncul seorang wanita cantik yang
memakai seragam merah dengan senyum khas yang selalu ku temui setiap kali
berpergian menggunakan jalur udara.
“Perhatian.. perhatian.. sebentar
lagi kita akan segera mendarat, diharapkan kepada para penumpang untuk
mengencangkan sabuk pengaman anda”. Tiba-tiba suara itu menggema diseluruh
lorong tempat ini.
Aku
tersenyum sendiri, “Akhirnya aku sampai.” Ujarku dalam hati. Tak sabar aku
ingin segera masuk ke Universitas yang memang sudah jauh-jauh hari ayah dan
paman ku persiapkan. Selain itu sepupuku, Nadia
juga kuliah disana. Jadi kami bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama.
Tempat
ini begitu ramai, ku cari sosok lelaki separuh baya yang dulu ketika aku kecil
biasa menggendongku. Tak butuh waktu lama, ia sudah melambaikan tangannya
bersama seorang gadis cantik berambut panjang disampingnya. Ku tarik koperku
dengan cepat dan berlari ke arah mereka.
“Kak Dian!!!” teriak Nadia dan segera berlari untuk memelukku sebagai
luapan rasa rindu.
Akupun
berteriak menyebut namanya, sebagai refleksku membalas teriakannya. Pelukan
khas cewe ketika bertemu menjadi ungkapan rasa rindu yang lama sudah tak
tersampaikan.
Melepas
pelukan nya, aku segera menyalam tangan Om Rusdy yang sudah lama menunggu
kedatanganku.
“Kamu sudah besar dan semakin
cantik saja yah” pujinya pada diriku.
“Ah.. om bisa aja”. Jawabku
tersipu malu.
Kami
segera menaiki mobil berwarna putih mengkilat yang akan mengantar kami ke
tujuan berikutnya, sepanjang perjalanan aku melihat sebuah kota yang sudah
banyak berubah dari balik jendela hitam semenjak terakhir kali aku tinggal
disini.
“Kak, bagaimana di Jakarta? Apa
disana menyenangkan?” tanya sepupuku yang tiba-tiba memalingkan wajahnya dari
kursi depan ke arahku.
“Disana, semua orang berpacu pada
waktu, sampai mereka lupa menyisihkan sedikit waktu untuk diri mereka sendiri”.
Ujarku yang masih tetap menatap keluar jendela mobil.
“terus.. terus…??” tanya nya
dengan rasa keingin tahuan yang tinggi.
“Ya, untuk informasi selebihnya
kamu bisa cari di internet”. Sambungku dengan lidah menjulur dari bibirku yang
tipis.
“iih kamu ini…” jawabnya kesal.
Senda
gurau menghiasi perjalanan pulang kami, Om Rusdy juga ikut menanyakan beberapa
hal kepadaku, namun semua itu tak lebih dari ungkapan rasa rindu mereka padaku.
Hingga akhirnya mataku terpaku dengan sebuah bangunan sekolah yang kami lewati.
“Om…om…
berhenti om…” kataku mendadak.
Om
Rusdy menghentikan mobilnya dan aku segera turun meninggalkan mereka berdua.
“Kamu mau kemana?” teriak Om
Rusdy.
“Ke sekolah ku yang dulu Om.”
“Aku ikut” sahut sepupuku dan
segera berlari menyusulku.
Setibanya
di gerbang hijau yang berkarat itu, aku terdiam dan mencoba membangun sebuah ingatan
tentang kenangan manis dan pahit dimasa lalu.
Dulu
semasa aku masih SMA, aku bukan seorang yang istimewa. Aku hanyalah seorang
siswa biasa layaknya siswa lainnya, akan tetapi di tempat inilah aku menemukan
seorang cowo yang mampu membuatku luluh akan hasrat di hatiku. Seorang cowo
yang tiap hari ada di dalam lamunanku.
“Sekarang
apa kabarnya yah?” tanya ku dalam hati yang tak mungkin membuahkan jawaban.
Sekian tahun tak bertemu tak jua menghapus asa dalam hatiku, setelah perpisahan
itu tak lagi aku mampu membuka hatiku untuk orang lain.
Andai
saja saat itu dia tau isi hatiku, mungkin kisah ini tak akan berjalan sepahit
ini. Dulu setiap kali aku tengah asik berbincang dengan teman-temanku, kerap
kali ia melintas dan memaksa mataku untuk memandangi kerupawanannya.
Akan
tetapi, setiap kali ia memalingkan wajahnya dan melihat kearahku, aku tak
berdaya untuk melihat tatapan itu. Aku hanya mampu membuang pandangan kearah
teman-temanku yang sedang asik bersenda gurau dan segera melibatkan diri dengan
obrolan mereka yang sebenarnya tak aku dengarkan sejak awal.
Tidak
ada yang tak mengenalnya, ia adalah seorang cowo yang cukup populer di sekolah,
sementara aku hanyalah salah satu dari sekian banyak cewe yang mengagumi
dirinya.
Dia
adalah seorang yang luar biasa, begitulah yang sering ku dengar dari cewe-cewe
yang membicarakan tentang dirinya. Pujian demi pujian itu menambah kekagumanku
pada dirinya.
Akan
tetapi bukan itu semua yang menumbuhkan perasaan ini padanya. Saat itu semester
pertama aku di sekolah ini, aku dan teman-temanku tengah asik berbicara sambil
berjalan melintas di tepi lapangan sepak bola.
Tanpa sengaja
seseorang menendang bola kearahku, aku ambil bola itu dan hendak berdiri, ingin
segera aku luapkan amarah yang ku rasakan. Tapi mendadak lidah ku kelu tak
mampu berkata, melihat sebuah senyuman yang melunturkan semua emosi yang sempat
mengisi hati.
Ia datang
menghampiriku, mendekat dan semakin dekat. Jantung ku berdetak begitu cepat,
aku gugup dan keringat mulai mengalir dari keningku.
“kamu gapapa kan?” tanyanya dengan senyum yang mempesona.
Aku
tak menjawab, mataku tak henti-henti melihatnya, antara sadar dan tidak aku
tengah berdiri di hadapan orang yang sampai saat ini mencuri seluruh hatiku.
“Hei… kamu gapapa kan?” tanyanya sekali
lagi dan kali ini ia membuatku tersadar dari hayalanku.
“Ahh.. ehh.. a..aku gapapa kok.”
Jawabku kaget.
“Maafin aku yah.” Ucapnya seraya
merebut bola dari tangan ku, lalu ia pergi berlari meninggalkan ku sendiri
hingga saat ini.
Tentu
aku memaafkannya dan aku tak akan melupakan hari itu, hari dimana pertama dan terakhir kali aku berbicara dengannya.
Andai saja saat itu ia tau isi hatiku, mungkin akan banyak hari untuk aku
habiskan berbicara dengan dirinya.
Tiada seorangpun
yang tau isi hati ini, kecuali Ayu teman sebangku ku. Hanya dia yang bisa ku
percaya sebagai teman curhat yang setia, mendengarkan setiap isi hati yang
tumbuh begitu saja, bersemi tanpa ada yang menyirami.
Sungguh ini
adalah penyesalan yang selalu ada dalam hatiku, jika saja saat itu aku berani
menyapanya, mungkin aku akan lebih dekat dengan dirinya.
Tapi apalah
daya, waktu telah berlalu dan semua telah terjadi. Saat itu jam kosong
dipelajaran bahasa Inggris, dari apa yang ku dengar Miss Aci, guru bahasa
Inggris kami tak hadir hari ini. Seketika suasana dikelas menjadi sedikit ricuh
dan berisik.
Walaupun ia tak
hadir untuk mengawasi kami, tapi ia memberikan sebuah tugas yang cukup
merepotkan. Ada yang peduli, tentu ada yang tidak peduli, dan syukurlah aku termasuk
orang yang peduli hingga mau mengerjakan tugas itu.
“Dian, temani aku ke kantin
dong”. Pinta Ayu.
“yuk, aku udah selesai ngerjain
tugas nih”
Kami
pun beranjak keluar meninggalkan kelas, suasana masih terlihat sepi karena para
siswa masih belajar di dalam kelas. Namun mataku hanya tertuju pada satu kelas,
“Apakah ia melihatku?” tanyaku dalam hati.
Layaknya
seorang gadis normal, sungguh aku ingin diperhatikan oleh orang yang aku sukai.
Tapi disinilah aku dengan segala isi hatiku, yang aku yakin ia tak pernah tau.
Terlebih lagi begitu banyak cewe yang menyukainya, pasti ia tak sempat
mengetahui segala yang ku rasa.
“Dian, kau yakin gak mau
mengatakan padanya tentang perasaanmu?” tanya Ayu mendadak.
“sudahlah aku, aku tak ingin
membahas hal ini”. Jawabku dengan senyum kepedihan.
“Kau sungguh tahan menyukainya
dari kelas 1 hingga sekarang, kita sebentar lagi akan lulus, dan dia tak akan
pernah tau isi hatimu”. Ujarnya dengan sedikit kesal.
“Bagaimana dengan Alex? Bukankah
dia kemarin menembak mu?” tanyanya lagi.
“Aku tak tau, aku belum
memberikan jawaban padanya”. Jawabku seraya mengaduk-aduk jus jeruk dengan
sedotan.
“Dian.. dian.. dasar kamu ini
suka banget gantungin cowo.” Ledeknya.
“iihh, kamu ini apa-apaan sih”.
Jawabku.
“Sudah berapa coba, cowo yang
mengungkapkan isi hatinya pada mu? Tapi semua berakhir sama, awalnya
digantungin terus jawabannya nyakitin.”
“Ah kamu ini, biarkan saja, lagi
pula aku gak mungkin membohongi isi hatiku”.
“Hanya demi dia, kau mengabaikan
mereka semua, coba deh lupakan dia dan sekali ini coba terima Alex, mungkin dia
akan membantumu melupakannya”
Obrolan
kami terus berlangsung hingga akhirnya bell tanda istirahat berbunyi, sesegera
mungkin kami segera kembali ke kelas karena kami tau, tak butuh waktu lama
tempat ini akan dipenuhi banyak orang.
Tak
pernah terbayangkan olehku, ketika hendak kembali ke kelas aku berselisih jalan
dengan dirinya, aku terdiam dan tak tau harus melakukan apa. Ayu menyadarkan ku
dari lamunan, dan dia tau kenapa aku melamun.
Kami semakin
dekat dan dia melihat ke arahku, jantungku berdegup cepat, keringat mengalir di
balik poni rambut ku.
“Sapa dia, ayo sapa dia..” bisik
Ayu padaku.
“Aku
harus berani, harus berani, aku gak boleh grogi lagi”. Semangatku dalam hati.
Belum sempat aku menyapanya, sebuah senyum yang indah terukir di bibirnya,
senyum itu, senyum itu tertuju padaku.
“Benarkah?” Tanyaku meyakinkan diri.
Senyumnya
itu membuatku tak bisa lepas dari memandanginya, aku semakin gugup karena kami
semakin dekat, hingga akhirnya sebuah senyuman ku layangkan padanya sebagai
balasan dari senyuman indahnya.
Setelah
berpapasan dengan dirinya, jantungku masih tak karuan. Fikiran ku melayang
entah kemana hingga tiba-tiba.
“Aduuuhh…. Kamu gimana sih?” ujar
Ayu marah padaku.
“Lihat coba? Gimana dia mau tau
perasaanmu kalau menyapanya saja kamu tak mampu?” Dia mengomel karena
kesalahanku pada diriku sendiri.
Hari
itu aku memang menyesal karena tak bisa menyapanya, tapi ada sedikit kebahagian
yang tertera dalam hatiku melihat senyumannya. Setelah hari itu Ayu kian giat
memaksaku untuk menerima Alex, itu hanyalah sebuah perhatiannya karena tak
ingin terus melihatku terpuruk dalam sebuah kekaguman semata.
Itu
adalah kesalahan terbesar yang pernah ku lakukan, melihat Ayu yang terus
memaksaku, entah mengapa aku menerima Alex begitu saja. Seminggu berlalu
setelah aku jadian dengannya, tak sedikitpun aku merasa bahagia. Malah
terkadang aku sering membayangkan bahwa Alex adalah dirinya.
Penyesalah
atas kesalahan ini terus bertubi-tubi menghujani fikiranku, membohongi Alex
bukanlah yang terburuk, tapi membohongi hatiku sendirilah yang menjadi
kesalahan terbesarku.
Hari
itu sepulang sekolah Alex menggandeng tanganku menuju parkiran hendak mengambil
sepeda motornya. Tapi tiba-tiba aku melihatnya, melihat seorang pangeran yang
selalu ku puja, dia dan temannya juga hendak berjalan menuju parkiran.
Hatiku
tak karuan, kebahagian bercampur dengan kepedihan. Tau kah engkau wahai
pangeran impianku, aku ingin kau lah yang saat ini menggenggam tanganku.
Seketika aku tersadar, aku tak bisa terus seperti ini, ini hanya akan menyakiti
diriku sendiri.
Setibanya
di depan rumahku, dengan tidak enak hati aku harus jujur pada Alex, ku ceritakan
segalanya bahwa ada seseorang yang sebenarnya aku cinta. Air mata mengalir di
pipi cowo berpostur atletis itu, menjelaskan bahwa sesungguhnya ia tidak terima
dengan semua yang aku katakan, tapi dengan sebuah senyum palsu ia berkata
padaku “Kejarlah dia, jika kau yakin dia cinta mu”.
“Kak Dian.. Ayo kita pulang…”
ujar Nadia yang berjalan membelakangiku.
“Iya, aku segera kesana” jawabku.
Tak
terasa cukup lama aku berdiri di depan gerbang ini, memandangi sebuah
lingkungan yang menjadi saksi cintaku padanya. Andai saja aku bisa bertemu
dengannya lagi, aku tak akan melakukan kesalahan yang sama kedua kali. Aku
pasti akan menyapanya.
Tapi
biarlah waktu yang menjawab semua pinta ku ini, cukuplah aku berdoa kepada yang
Kuasa untuk dipertemukan lagi dengannya. Segera aku berjalan menyusul gadis
yang usianya 2 tahun lebih muda dariku itu.
Tanpa
ku sadar, berdiri cukup lama di depan gerbang itu membuat air mataku mengalir
perlahan melintasi pipiku yang kemerahan. Segera ku usap pipiku dan menumbuhkan
sebuah senyuman di wajahku, “Jodoh pasti bertemu.” Yakin ku dalam hati.
Di
rumah ternyata bibi tengah menyiapkan makan malam yang enak untuk kami, segera
aku dan Nadia membantunya. Selama memasak bibi menanyakan beberapa hal padaku,
tak jauh berbeda dengan pertanyaan yang tadi diajukan paman padaku.
Setelah
selesai makan malam, aku berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan
untukku. Besok adalah hari baru, Universitas baru dan teman-teman baru, aku
memilih masuk fakultas sastra sementara Nadia ada di fakultas media.
Keesokan
harinya kami berangkat bersama, paman mengantar kami hingga depan gerbang
kampus. Nadia bilang fakultas sastra bersebelahan dengan fakultas media jadi
kapan saja aku bisa bertemu dengannya.
Langkah
demi langkah kami lalui, berjalan ditepi jalan menuju gedung putih berhiaskan
warna biru. Nadia asik berbicara menjelaskan pengalamannya dikampus ini, dia
memiliki banyak teman walau baru beberapa bulan kuliah disini.
Tetapi
pandangan ku teralihkan darinya, ku lihat taman yang dipenuhi mahasiswa yang
sibuk bercengkrama satu dengan yang lainnya. “Sungguh suasana yang
menyenangkan” fikirku dalam hati.
Tapi
perhatianku tertuju pada seorang pemuda, seorang pemuda yang mengenakan jaket
hitam yang duduk sendirian membelakangi kami berdua, di bawah pohon yang sangat
rindang. Hal itu sangat aneh di tengah suasana taman yang sangan indah ini,
disaat mahasiswa lain asik satu sama lain.
Dia hanya diam
dan duduk tak bergerak dari kursi panjang berwana putih cerah itu. Mungkin dia
tengah patah hati atau mungkin ia memang seorang penyendiri.
“Cowo yang aneh”. Ujarku.
“Haa… Apa?” Tanya Nadia kaget.
“eeh… bukan apa-apa kok, ayo kita
lebih bergegas”. Jawabku mengalihkan pembicaraan.
Setibanya
kami di gedung itu, Nadia mengantarku menuju ruangan rektor. Tapi ia hanya
mengantarku sampai ke depan pintunya saja, lalu ia segera pergi melambaikan
tangannya dan berkata akan menungguku sehabis jam kuliah.
Segeraku
masuk dan berpapasan dengan seorang pria tua yang memakai jas hitam dengan dasi
merah darah.
“Selamat pagi pak.” Sapa ku.
“oh… kamu mahasiswa baru itu
yah.” Ujarnya
“iya pak.” Jawabku.
Ia
segera memanggil seorang dosen, dosen yang ternyata akan mengajar di kelasku
hari ini, ia mengajak kami berjalan bersama menuju melintasi lorong yang cukup
luas, terdengar suara gaduh dari ruangan di pojok kiri lorong ini, yang
ternyata adalah tempat dimana aku akan berbaur. Aku harap akan menemukan teman
yang spesial seperti Ayu dulu diruangan ini.
Sungguh
sangat disayangkan ternyata Tuhan tidak mengabulkan permintaanku itu. Setelah
masuk kedalam ruangan, kaki ku gemetar, keringat mengalir dari keningku,
jantung ku terus berpacu, cepat dan semakin cepatnya. Mataku tak mampu ku
kedipkan, bukan karena gugup menjadi seorang mahasiswa baru, tapi.. tapi…
Seorang
pangeran tengah menatap tajam kearahku, tatapan yang menghanyutkan diriku,
membawaku dalam sekejap mengenang masa lalu. Hanya sebuah senyuman yang saat
ini bisa ku layangkan padanya sebagai tanda cinta yang sudah lama ada didalam
dada.
Tapi, kali ini tak akan ku
biarkan diriku mengulang kesalahan yang sama. Segera hatiku berkata.
“Aku pasti akan menyapanya!!!”


Sebuah kata yang tak bisa terungkap hanya mampu mengaggumi saja , insyaallah jika Allah mengizinkan ingin ku menyapa mu dari kejahuan 😊
BalasHapus