Minggu, 24 November 2013


         Ku pandang keluar jendela bundar yang sedikit lebih besar dari kepalaku, terlihat hamparan awan putih bagaikan taman surga yang membentang begitu indahnya disepanjang perjalananku. 
            Sudah lama semenjak aku lulus sekolah, aku tidak pernah lagi kembali ke tempat dimana aku tumbuh besar dan jatuh cinta untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
            Itu semua karena faktor pekerjaan ayahku yang mengharuskanku ikut pindah bersamanya. Tapi kini usiaku sudah 21 tahun, dan ayahku sudah mengizinkanku untuk mengarungi samudera kehidupan ini sendirian.
            Tentu saja tidak benar-benar sendiri, di kota ini aku akan tinggal bersama keluarga pamanku yang dulu sering ku singgahi semasa aku dan keluargaku masih tinggal di kota ini. Aku tak sabar melihat wajah mereka mengingat telah lama waktu dan jarak menjadi pemisah kami semua.
            Di antara deretan kursi kelabu kekuningan ini muncul seorang wanita cantik yang memakai seragam merah dengan senyum khas yang selalu ku temui setiap kali berpergian menggunakan jalur udara.
“Perhatian.. perhatian.. sebentar lagi kita akan segera mendarat, diharapkan kepada para penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman anda”. Tiba-tiba suara itu menggema diseluruh lorong tempat ini.
            Aku tersenyum sendiri, “Akhirnya aku sampai.” Ujarku dalam hati. Tak sabar aku ingin segera masuk ke Universitas yang memang sudah jauh-jauh hari ayah dan paman ku persiapkan. Selain itu sepupuku, Nadia juga kuliah disana. Jadi kami bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama.
            Tempat ini begitu ramai, ku cari sosok lelaki separuh baya yang dulu ketika aku kecil biasa menggendongku. Tak butuh waktu lama, ia sudah melambaikan tangannya bersama seorang gadis cantik berambut panjang disampingnya. Ku tarik koperku dengan cepat dan berlari ke arah mereka.
“Kak Dian!!!” teriak Nadia dan segera berlari untuk memelukku sebagai luapan rasa rindu.
            Akupun berteriak menyebut namanya, sebagai refleksku membalas teriakannya. Pelukan khas cewe ketika bertemu menjadi ungkapan rasa rindu yang lama sudah tak tersampaikan.
            Melepas pelukan nya, aku segera menyalam tangan Om Rusdy yang sudah lama menunggu kedatanganku.
“Kamu sudah besar dan semakin cantik saja yah” pujinya pada diriku.
“Ah.. om bisa aja”. Jawabku tersipu malu.
            Kami segera menaiki mobil berwarna putih mengkilat yang akan mengantar kami ke tujuan berikutnya, sepanjang perjalanan aku melihat sebuah kota yang sudah banyak berubah dari balik jendela hitam semenjak terakhir kali aku tinggal disini.
“Kak, bagaimana di Jakarta? Apa disana menyenangkan?” tanya sepupuku yang tiba-tiba memalingkan wajahnya dari kursi depan ke arahku.
“Disana, semua orang berpacu pada waktu, sampai mereka lupa menyisihkan sedikit waktu untuk diri mereka sendiri”. Ujarku yang masih tetap menatap keluar jendela mobil.
“terus.. terus…??” tanya nya dengan rasa keingin tahuan yang tinggi.
“Ya, untuk informasi selebihnya kamu bisa cari di internet”. Sambungku dengan lidah menjulur dari bibirku yang tipis.
“iih kamu ini…” jawabnya kesal.
         Senda gurau menghiasi perjalanan pulang kami, Om Rusdy juga ikut menanyakan beberapa hal kepadaku, namun semua itu tak lebih dari ungkapan rasa rindu mereka padaku. Hingga akhirnya mataku terpaku dengan sebuah bangunan sekolah yang kami lewati.
“Om…om…  berhenti om…” kataku mendadak.
            Om Rusdy menghentikan mobilnya dan aku segera turun meninggalkan mereka berdua.
“Kamu mau kemana?” teriak Om Rusdy.
“Ke sekolah ku yang dulu Om.”
“Aku ikut” sahut sepupuku dan segera berlari menyusulku.
          Setibanya di gerbang hijau yang berkarat itu, aku terdiam dan mencoba membangun sebuah ingatan tentang kenangan manis dan pahit dimasa lalu.
            Dulu semasa aku masih SMA, aku bukan seorang yang istimewa. Aku hanyalah seorang siswa biasa layaknya siswa lainnya, akan tetapi di tempat inilah aku menemukan seorang cowo yang mampu membuatku luluh akan hasrat di hatiku. Seorang cowo yang tiap hari ada di dalam lamunanku.
            “Sekarang apa kabarnya yah?” tanya ku dalam hati yang tak mungkin membuahkan jawaban. Sekian tahun tak bertemu tak jua menghapus asa dalam hatiku, setelah perpisahan itu tak lagi aku mampu membuka hatiku untuk orang lain.
            Andai saja saat itu dia tau isi hatiku, mungkin kisah ini tak akan berjalan sepahit ini. Dulu setiap kali aku tengah asik berbincang dengan teman-temanku, kerap kali ia melintas dan memaksa mataku untuk memandangi kerupawanannya.
            Akan tetapi, setiap kali ia memalingkan wajahnya dan melihat kearahku, aku tak berdaya untuk melihat tatapan itu. Aku hanya mampu membuang pandangan kearah teman-temanku yang sedang asik bersenda gurau dan segera melibatkan diri dengan obrolan mereka yang sebenarnya tak aku dengarkan sejak awal.
            Tidak ada yang tak mengenalnya, ia adalah seorang cowo yang cukup populer di sekolah, sementara aku hanyalah salah satu dari sekian banyak cewe yang mengagumi dirinya.
            Dia adalah seorang yang luar biasa, begitulah yang sering ku dengar dari cewe-cewe yang membicarakan tentang dirinya. Pujian demi pujian itu menambah kekagumanku pada dirinya.
            Akan tetapi bukan itu semua yang menumbuhkan perasaan ini padanya. Saat itu semester pertama aku di sekolah ini, aku dan teman-temanku tengah asik berbicara sambil berjalan melintas di tepi lapangan sepak bola.
Tanpa sengaja seseorang menendang bola kearahku, aku ambil bola itu dan hendak berdiri, ingin segera aku luapkan amarah yang ku rasakan. Tapi mendadak lidah ku kelu tak mampu berkata, melihat sebuah senyuman yang melunturkan semua emosi yang sempat mengisi hati.
Ia datang menghampiriku, mendekat dan semakin dekat. Jantung ku berdetak begitu cepat, aku gugup dan keringat mulai mengalir dari keningku.
“kamu gapapa kan?” tanyanya dengan senyum yang mempesona.
            Aku tak menjawab, mataku tak henti-henti melihatnya, antara sadar dan tidak aku tengah berdiri di hadapan orang yang sampai saat ini mencuri seluruh hatiku.
“Hei… kamu gapapa kan?” tanyanya sekali lagi dan kali ini ia membuatku tersadar dari hayalanku.
“Ahh.. ehh.. a..aku gapapa kok.” Jawabku kaget.
“Maafin aku yah.” Ucapnya seraya merebut bola dari tangan ku, lalu ia pergi berlari meninggalkan ku sendiri hingga saat ini.
            Tentu aku memaafkannya dan aku tak akan melupakan hari itu, hari dimana pertama dan terakhir kali aku berbicara dengannya. Andai saja saat itu ia tau isi hatiku, mungkin akan banyak hari untuk aku habiskan berbicara dengan dirinya.
Tiada seorangpun yang tau isi hati ini, kecuali Ayu teman sebangku ku. Hanya dia yang bisa ku percaya sebagai teman curhat yang setia, mendengarkan setiap isi hati yang tumbuh begitu saja, bersemi tanpa ada yang menyirami.
Sungguh ini adalah penyesalan yang selalu ada dalam hatiku, jika saja saat itu aku berani menyapanya, mungkin aku akan lebih dekat dengan dirinya.
Tapi apalah daya, waktu telah berlalu dan semua telah terjadi. Saat itu jam kosong dipelajaran bahasa Inggris, dari apa yang ku dengar Miss Aci, guru bahasa Inggris kami tak hadir hari ini. Seketika suasana dikelas menjadi sedikit ricuh dan berisik.
Walaupun ia tak hadir untuk mengawasi kami, tapi ia memberikan sebuah tugas yang cukup merepotkan. Ada yang peduli, tentu ada yang tidak peduli, dan syukurlah aku termasuk orang yang peduli hingga mau mengerjakan tugas itu.
“Dian, temani aku ke kantin dong”. Pinta Ayu.
“yuk, aku udah selesai ngerjain tugas nih”
            Kami pun beranjak keluar meninggalkan kelas, suasana masih terlihat sepi karena para siswa masih belajar di dalam kelas. Namun mataku hanya tertuju pada satu kelas, “Apakah ia melihatku?” tanyaku dalam hati.
            Layaknya seorang gadis normal, sungguh aku ingin diperhatikan oleh orang yang aku sukai. Tapi disinilah aku dengan segala isi hatiku, yang aku yakin ia tak pernah tau. Terlebih lagi begitu banyak cewe yang menyukainya, pasti ia tak sempat mengetahui segala yang ku rasa.
“Dian, kau yakin gak mau mengatakan padanya tentang perasaanmu?” tanya Ayu mendadak.
“sudahlah aku, aku tak ingin membahas hal ini”. Jawabku dengan senyum kepedihan.
“Kau sungguh tahan menyukainya dari kelas 1 hingga sekarang, kita sebentar lagi akan lulus, dan dia tak akan pernah tau isi hatimu”. Ujarnya dengan sedikit kesal.
“Bagaimana dengan Alex? Bukankah dia kemarin menembak mu?” tanyanya lagi.
“Aku tak tau, aku belum memberikan jawaban padanya”. Jawabku seraya mengaduk-aduk jus jeruk dengan sedotan.
“Dian.. dian.. dasar kamu ini suka banget gantungin cowo.” Ledeknya.
“iihh, kamu ini apa-apaan sih”. Jawabku.
“Sudah berapa coba, cowo yang mengungkapkan isi hatinya pada mu? Tapi semua berakhir sama, awalnya digantungin terus jawabannya nyakitin.”
“Ah kamu ini, biarkan saja, lagi pula aku gak mungkin membohongi isi hatiku”.
“Hanya demi dia, kau mengabaikan mereka semua, coba deh lupakan dia dan sekali ini coba terima Alex, mungkin dia akan membantumu melupakannya”
            Obrolan kami terus berlangsung hingga akhirnya bell tanda istirahat berbunyi, sesegera mungkin kami segera kembali ke kelas karena kami tau, tak butuh waktu lama tempat ini akan dipenuhi banyak orang.
            Tak pernah terbayangkan olehku, ketika hendak kembali ke kelas aku berselisih jalan dengan dirinya, aku terdiam dan tak tau harus melakukan apa. Ayu menyadarkan ku dari lamunan, dan dia tau kenapa aku melamun.
Kami semakin dekat dan dia melihat ke arahku, jantungku berdegup cepat, keringat mengalir di balik poni rambut ku.
“Sapa dia, ayo sapa dia..” bisik Ayu padaku.
            “Aku harus berani, harus berani, aku gak boleh grogi lagi”. Semangatku dalam hati. Belum sempat aku menyapanya, sebuah senyum yang indah terukir di bibirnya, senyum itu, senyum itu tertuju padaku.  “Benarkah?” Tanyaku meyakinkan diri.
            Senyumnya itu membuatku tak bisa lepas dari memandanginya, aku semakin gugup karena kami semakin dekat, hingga akhirnya sebuah senyuman ku layangkan padanya sebagai balasan dari senyuman indahnya.
            Setelah berpapasan dengan dirinya, jantungku masih tak karuan. Fikiran ku melayang entah kemana hingga tiba-tiba.
“Aduuuhh…. Kamu gimana sih?” ujar Ayu marah padaku.
“Lihat coba? Gimana dia mau tau perasaanmu kalau menyapanya saja kamu tak mampu?” Dia mengomel karena kesalahanku pada diriku sendiri.
            Hari itu aku memang menyesal karena tak bisa menyapanya, tapi ada sedikit kebahagian yang tertera dalam hatiku melihat senyumannya. Setelah hari itu Ayu kian giat memaksaku untuk menerima Alex, itu hanyalah sebuah perhatiannya karena tak ingin terus melihatku terpuruk dalam sebuah kekaguman semata.
            Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ku lakukan, melihat Ayu yang terus memaksaku, entah mengapa aku menerima Alex begitu saja. Seminggu berlalu setelah aku jadian dengannya, tak sedikitpun aku merasa bahagia. Malah terkadang aku sering membayangkan bahwa Alex adalah dirinya.
            Penyesalah atas kesalahan ini terus bertubi-tubi menghujani fikiranku, membohongi Alex bukanlah yang terburuk, tapi membohongi hatiku sendirilah yang menjadi kesalahan terbesarku.
            Hari itu sepulang sekolah Alex menggandeng tanganku menuju parkiran hendak mengambil sepeda motornya. Tapi tiba-tiba aku melihatnya, melihat seorang pangeran yang selalu ku puja, dia dan temannya juga hendak berjalan menuju parkiran.
            Hatiku tak karuan, kebahagian bercampur dengan kepedihan. Tau kah engkau wahai pangeran impianku, aku ingin kau lah yang saat ini menggenggam tanganku. Seketika aku tersadar, aku tak bisa terus seperti ini, ini hanya akan menyakiti diriku sendiri.
            Setibanya di depan rumahku, dengan tidak enak hati aku harus jujur pada Alex, ku ceritakan segalanya bahwa ada seseorang yang sebenarnya aku cinta. Air mata mengalir di pipi cowo berpostur atletis itu, menjelaskan bahwa sesungguhnya ia tidak terima dengan semua yang aku katakan, tapi dengan sebuah senyum palsu ia berkata padaku “Kejarlah dia, jika kau yakin dia cinta mu”.
“Kak Dian.. Ayo kita pulang…” ujar Nadia yang berjalan membelakangiku.
“Iya, aku segera kesana” jawabku.
            Tak terasa cukup lama aku berdiri di depan gerbang ini, memandangi sebuah lingkungan yang menjadi saksi cintaku padanya. Andai saja aku bisa bertemu dengannya lagi, aku tak akan melakukan kesalahan yang sama kedua kali. Aku pasti akan menyapanya.
            Tapi biarlah waktu yang menjawab semua pinta ku ini, cukuplah aku berdoa kepada yang Kuasa untuk dipertemukan lagi dengannya. Segera aku berjalan menyusul gadis yang usianya 2 tahun lebih muda dariku itu.
            Tanpa ku sadar, berdiri cukup lama di depan gerbang itu membuat air mataku mengalir perlahan melintasi pipiku yang kemerahan. Segera ku usap pipiku dan menumbuhkan sebuah senyuman di wajahku, “Jodoh pasti bertemu.” Yakin ku dalam hati.
            Di rumah ternyata bibi tengah menyiapkan makan malam yang enak untuk kami, segera aku dan Nadia membantunya. Selama memasak bibi menanyakan beberapa hal padaku, tak jauh berbeda dengan pertanyaan yang tadi diajukan paman padaku.
            Setelah selesai makan malam, aku berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan untukku. Besok adalah hari baru, Universitas baru dan teman-teman baru, aku memilih masuk fakultas sastra sementara Nadia ada di fakultas media.
            Keesokan harinya kami berangkat bersama, paman mengantar kami hingga depan gerbang kampus. Nadia bilang fakultas sastra bersebelahan dengan fakultas media jadi kapan saja aku bisa bertemu dengannya.
            Langkah demi langkah kami lalui, berjalan ditepi jalan menuju gedung putih berhiaskan warna biru. Nadia asik berbicara menjelaskan pengalamannya dikampus ini, dia memiliki banyak teman walau baru beberapa bulan kuliah disini.
            Tetapi pandangan ku teralihkan darinya, ku lihat taman yang dipenuhi mahasiswa yang sibuk bercengkrama satu dengan yang lainnya. “Sungguh suasana yang menyenangkan” fikirku dalam hati.
            Tapi perhatianku tertuju pada seorang pemuda, seorang pemuda yang mengenakan jaket hitam yang duduk sendirian membelakangi kami berdua, di bawah pohon yang sangat rindang. Hal itu sangat aneh di tengah suasana taman yang sangan indah ini, disaat mahasiswa lain asik satu sama lain.
Dia hanya diam dan duduk tak bergerak dari kursi panjang berwana putih cerah itu. Mungkin dia tengah patah hati atau mungkin ia memang seorang penyendiri.
“Cowo yang aneh”. Ujarku.
“Haa… Apa?” Tanya Nadia kaget.
“eeh… bukan apa-apa kok, ayo kita lebih bergegas”. Jawabku mengalihkan pembicaraan.
            Setibanya kami di gedung itu, Nadia mengantarku menuju ruangan rektor. Tapi ia hanya mengantarku sampai ke depan pintunya saja, lalu ia segera pergi melambaikan tangannya dan berkata akan menungguku sehabis jam kuliah.
            Segeraku masuk dan berpapasan dengan seorang pria tua yang memakai jas hitam dengan dasi merah darah.
“Selamat pagi pak.” Sapa ku.
“oh… kamu mahasiswa baru itu yah.” Ujarnya
“iya pak.” Jawabku.
            Ia segera memanggil seorang dosen, dosen yang ternyata akan mengajar di kelasku hari ini, ia mengajak kami berjalan bersama menuju melintasi lorong yang cukup luas, terdengar suara gaduh dari ruangan di pojok kiri lorong ini, yang ternyata adalah tempat dimana aku akan berbaur. Aku harap akan menemukan teman yang spesial seperti Ayu dulu diruangan ini.
            Sungguh sangat disayangkan ternyata Tuhan tidak mengabulkan permintaanku itu. Setelah masuk kedalam ruangan, kaki ku gemetar, keringat mengalir dari keningku, jantung ku terus berpacu, cepat dan semakin cepatnya. Mataku tak mampu ku kedipkan, bukan karena gugup menjadi seorang mahasiswa baru, tapi.. tapi…
            Seorang pangeran tengah menatap tajam kearahku, tatapan yang menghanyutkan diriku, membawaku dalam sekejap mengenang masa lalu. Hanya sebuah senyuman yang saat ini bisa ku layangkan padanya sebagai tanda cinta yang sudah lama ada didalam dada.

Tapi, kali ini tak akan ku biarkan diriku mengulang kesalahan yang sama. Segera hatiku berkata.

“Aku pasti akan menyapanya!!!” 




1 komentar:

  1. Sebuah kata yang tak bisa terungkap hanya mampu mengaggumi saja , insyaallah jika Allah mengizinkan ingin ku menyapa mu dari kejahuan 😊

    BalasHapus