Kamis, 05 Desember 2013


Angin berhembus dengan kencangnya seakan memaksa pohon untuk menari, Gemuruh mulai terdengar di samudera awan kelabu, kilatan-kilatan mulai muncul satu persatu.
“Huuuh, sungguh menyebalkan” gumam ku mengambil keranjang biru.
            Sudah seminggu berlalu semenjak lambaian tangan mu itu, lambaian tangan yang mengiris-ngiris hatiku, kini aku tengah berbelanja di sebuah indomaret bersama Angga sahabat setiaku. Malam ini aku berencana menginap di rumahnya, sedikit menanam harap bisa berpapasan dengan dirimu yang tinggal tak jauh dari rumahnya. “Dinda, apa yang kau lakukan saat ini?” tanyaku dalam hati.
“Vin, sebaiknya kita buru-buru deh, kalo gak kita bisa kehujanan.” Ujar Angga.
“Ya ya bentar, lagi milih-milih nih.” Sahutku kesal.
            Belum sempat kami menyuguhkan barang belanjaan kami pada sang nona penjaga kasir, jutaan butir air jatuh dengan cepatnya menghantam bumi.
“Tuh kan, hujan.” Keluh Angga.
“Yah apa boleh buat kita tunggu aja sampai redah.” Jawabku tenang.
          

              Kini kami berdiri di depan indomaret, seragam putih abu-abu kami mulai melembab karena dinginnya suhu, tas ranselku menyiksa pungguku, mungkin efek banyaknya buku yang ada di dalamnya. melihat butiran-butiran yang jatuh membuatku serasa mengantuk, kapan hujan ini akan berhenti? agar kami segera pulang dan beristirahat.
              Cukup lama kami menunggu, sedikit menikmati cemilan yang kami beli tadi. Sepasang earphone melekat pada telinga Angga, dia sangat suka mendengarkan musik, terutama tentang cinta, itu “manis” katanya. Dia menyukai musik karena musik dapat menenangkan hatinya yang sedang kacau.
Tapi, bagiku, satu-satunya jalan untuk menenangkan diriku hanyalah duniaku. Dunia yang kuciptakan sendiri. Hanya aku yang bisa mengunjunginya. Dunia dalam fikiran ku semata.
Ribuan cinta dalam suatu pusara. Mengelilingi satu jiwa. “Dinda” hanya ada sebuah nama. Namun ia pergi menghilang entah kemana?
Setelah kepergiannya, dunia ku ini hanya tinggal fana. Indahnya bunga memang tak seindah cinta. Namun, ketika cinta dihadapkan pada satu masalah. Apakah indahnya akan tetap ada? Atau lekas sirna dan pergi entah kemana?
Tentang makna cinta. Begitu banyak ahli yang mendefenisikannya, setiap orang menggunakan kalimat yang berbeda-beda. Sebenarnya sama saja, pada akhirnya cinta adalah cinta itu sendiri.
Tapi!! siapa peduli dengan semua itu?! Hati yang akan menjabarkan cinta yang ia rasakan. Hanya saja ... ketika cinta itu pergi. Makna cinta pun mencipta luka yang sungguh menyiksa..
Angga menawariku memakai earphone-nya, seakan ia tau saat ini aku memikirkan Dinda seorang. “Kau sahabat yang perhatian” ujarku dalam hati. Akan tetapi aku tak mau menerimanya, hanya senyum yang bisa ku berikan dan sebuah isyarat tanda penolakan ditengah derasnya suara hujan.
Langit mulai membiru menjadi background awan kelabu. Sudah maghrib ternyata, dan kami masih terjebak disini.
            Kondisi ini membawaku bernostalgia kembali pada waktu itu, hari pertama kali kami bertemu. Saat itu Angga tengah berteduh di sebuah indomaret dekat sekolah kami, aku yang hendak ingin pulang terhambat oleh derasnya hujan yang mengakibatkanku berlabuh di indomaret tempat Angga berteduh.
            Disana kami berkenalan dan berbincang-bincang sampai hujan berhenti, iseng awalnya aku menawari dia tumpangan bersamaku. Walau sebenarnya rumah kami berlawanan arah dari sekolah, tapi itulah awal mula aku bersahabat dengan dia.
Tiba-tiba cahaya kuning menyilaukan menyadarkanku dari ingatan kecilku. Perlahan mobil itu mendekat dan parkir tepat di depan kami, tampak seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut panjangnya yang tergerai terburu-buru keluar dari mobil dengan sebuah jaket yang dijadikan perisai dari serangan hujan. Lalu diikuti dengan seorang pria paruh baya dengan wajah berhiaskan kumis tipis dan janggut yang cukup rapi.
            Gadis  itu melihat ke arah kami, samar-samar di balik poninya mata nya yang sedikit bundar itu melirik dari wajahnya yang sedikit merunduk. Lalu kemudian masuk kedalam indomaret.
            Tak lama hujanpun meredah, tak ingin membuang kesempatan kami segera meluncur kerumah Angga.
“Ah… akhirnya sampai juga.” Ujarku di depan rumah bercat kuning itu.
“Yuk masuk..” ajaknya.
            Cukup lama berdiri disana, membuat kaki ku kesemutan dan pegal-pegal. Langit sudah menghitam namun awan tak lagi membentang, malam ini bintang tampak jelas dan sungguh indah menghiasi angkasa. Rembulan juga sombong memamerkan sinarnya.
            Bercerita dikamar bersama Angga sedikit membuatku melupakan penak ku tadi, tapi tetap tak bisa membuatku melupakan bidadari dalam hidupku,… “Dinda, kamu lagi apa yah?” lagi-lagi aku menanyakan hal yang sama dalam hatiku.
Bagaimana aku bisa melupakanmu? Entah bagaimana! Kamu seperti angin yang selalu muncul dan menghilang tiba-tiba dalam fikiranku, kamu seperti obat heroin yang membuatku terus kecanduan untuk memikirkanmu, membuatku menggali cinta mu lebih dalam lagi dan terus menghisap cinta semu dari mu sampai mati.
Cinta yang kau rajut bersamanya kini menjadi terik matahari yang sangat melelahkanku mengejar fatamorgana cinta di dunia ku yang sungguh fana, berharap dan berharap semoga fatamorgana itu menjadi sesuatu yang nyata.
Malam ini sebelum aku tidur dan terbang ke alam mimpi yang tak tau aku apakah itu baik atau buruk, ku panjatkan sebuah do’a yang aku harap Tuhan mengabulkannya.
           
“Tuhan… aku menyayanginya, aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri, aku ingin membahagiakannya, berikan aku kesempatan sekali saja untuk meraihnya, untuk menguras rasa cintanya  itu dan menggali rasa sayangnya untukku…”

“Aku memang tak seindah mentari yang selalu meneranginya dalam kegelapan, aku memang bukanlah bulan atau bintang yang indah yang bersinar terang menemaninya seperti malam ini, aku bukanlah langit senja yang elok dan elegant, aku tak mungkin seperti diri-Mu, Tuhan yang selalu sempurna, tapi aku hanya ingin menjadi sosok yang terus ada di saat suka dan dukanya, menjadikan hal yang tak sempurna menjadi sempurna.”

“Tuhan…ulang kembali masa-masa di mana aku dekat dengannya… jadikan setiap mimpi indahku bersamanya menjadi sebuah kenyataan…. jaga dia dimanapun dia berada… aku hanya berharap dalam waktu tak lama ini aku dan dia bisa bersama, melengkapi sela-sela jari ini yang masih kosong, bergandeng tangan dan menggores kisah cinta lebih indah…”


Aku titip tanda hati pada bintang-bintang yang bertaburan malam ini, melingkar di atas rumahmu dan di tengahnya terisi penuh oleh rembulan malam yang elok. Aku berharap kau hadir lewat mimpiku malam ini, mengukir namaku sekali saja di hatimu dan melantunkan simponi-simponi indah dalam ingatanku, mewarnai setiap awan kelam bersama warna-warna terang, aku berharap kau dengar setiap lantunan do’a ku yang kutitipkan lewat Tuhan, semoga kau sudi merasakan rasa yang sama seperti rasaku kini padamu.
Lagi-lagi hatiku mengajakku untuk pergi ke dunia itu. Duniaku ... dunia fatamorgana. Saat dan ketika ruang dalam waktu tak henti memanggil satu jiwa. “Dinda” Tapi yang terjadi hanya bayang semata. Saat dan ketika lorong kesunyian bertemu dengan satu cita. Yang terjadi hanya angan dalam raga.
Cinta ... telah menjadi dahaga. Cinta ... terlanjur termakna. Maka, biarlah ! Keberadaanmu termanja oleh rasa. Fatamorgana ... tak hilang. Sang pemakna telah datang. Jadikannya rasa sayang.
Uuhh sungguh tinggi khayal membawaku terbang... dan saat ku sadar akan kenyataan, seakan sayapku menghilang dan gravitasi menarikku jatuh, sungguh sakit tapi indah. Aku ingin mengatakan ini padamu, walau ku tau aku tak punya keberanian mengatakan itu langsung pada dirimu.


Selamat malam Dinda, mimpi yang indah.”

0 komentar:

Posting Komentar