Angin berhembus
dengan kencangnya seakan memaksa pohon untuk menari, Gemuruh mulai terdengar di
samudera awan kelabu, kilatan-kilatan mulai muncul satu persatu.
“Huuuh, sungguh menyebalkan” gumam
ku mengambil keranjang biru.
Sudah
seminggu berlalu semenjak lambaian tangan mu itu, lambaian tangan yang
mengiris-ngiris hatiku, kini aku tengah berbelanja di sebuah indomaret bersama
Angga sahabat setiaku. Malam ini aku berencana menginap di rumahnya, sedikit
menanam harap bisa berpapasan dengan dirimu yang tinggal tak jauh dari
rumahnya. “Dinda, apa yang kau lakukan saat ini?” tanyaku dalam hati.
“Vin, sebaiknya kita buru-buru
deh, kalo gak kita bisa kehujanan.” Ujar Angga.
“Ya ya bentar, lagi milih-milih
nih.” Sahutku kesal.
Belum
sempat kami menyuguhkan barang belanjaan kami pada sang nona penjaga kasir,
jutaan butir air jatuh dengan cepatnya menghantam bumi.
“Tuh kan , hujan.” Keluh Angga.
“Yah apa boleh buat kita tunggu
aja sampai redah.” Jawabku tenang.
Cukup lama kami menunggu, sedikit menikmati cemilan yang kami beli tadi. Sepasang earphone melekat pada telinga Angga, dia sangat suka mendengarkan musik, terutama tentang cinta, itu “manis” katanya. Dia menyukai musik karena musik dapat menenangkan hatinya yang sedang kacau.
Tapi, bagiku,
satu-satunya jalan untuk menenangkan diriku hanyalah duniaku. Dunia yang
kuciptakan sendiri. Hanya aku yang bisa mengunjunginya. Dunia dalam fikiran ku
semata.
Ribuan cinta
dalam suatu pusara. Mengelilingi satu jiwa. “Dinda” hanya ada sebuah nama.
Namun ia pergi menghilang entah kemana?
Setelah
kepergiannya, dunia ku ini hanya tinggal fana. Indahnya bunga memang tak
seindah cinta. Namun, ketika cinta dihadapkan pada satu masalah. Apakah
indahnya akan tetap ada? Atau lekas sirna dan pergi entah kemana?
Tentang makna
cinta. Begitu banyak ahli yang mendefenisikannya, setiap orang menggunakan
kalimat yang berbeda-beda. Sebenarnya sama saja, pada akhirnya cinta adalah
cinta itu sendiri.
Tapi!! siapa
peduli dengan semua itu?! Hati yang akan menjabarkan cinta yang ia rasakan.
Hanya saja ... ketika cinta itu pergi. Makna cinta pun mencipta luka yang
sungguh menyiksa..
Angga menawariku
memakai earphone-nya, seakan ia tau
saat ini aku memikirkan Dinda seorang. “Kau sahabat yang perhatian” ujarku
dalam hati. Akan tetapi aku tak mau menerimanya, hanya senyum yang bisa ku
berikan dan sebuah isyarat tanda penolakan ditengah derasnya suara hujan.
Langit mulai
membiru menjadi background awan
kelabu. Sudah maghrib ternyata, dan kami masih terjebak disini.
Kondisi
ini membawaku bernostalgia kembali pada waktu itu, hari pertama kali kami
bertemu. Saat itu Angga tengah berteduh di sebuah indomaret dekat sekolah kami,
aku yang hendak ingin pulang terhambat oleh derasnya hujan yang mengakibatkanku
berlabuh di indomaret tempat Angga berteduh.
Disana
kami berkenalan dan berbincang-bincang sampai hujan berhenti, iseng awalnya aku
menawari dia tumpangan bersamaku. Walau sebenarnya rumah kami berlawanan arah
dari sekolah, tapi itulah awal mula aku bersahabat dengan dia.
Tiba-tiba cahaya
kuning menyilaukan menyadarkanku dari ingatan kecilku. Perlahan mobil itu
mendekat dan parkir tepat di depan kami, tampak seorang gadis bertubuh mungil
dengan rambut panjangnya yang tergerai terburu-buru keluar dari mobil dengan
sebuah jaket yang dijadikan perisai dari serangan hujan. Lalu diikuti dengan
seorang pria paruh baya dengan wajah berhiaskan kumis tipis dan janggut yang
cukup rapi.
Gadis itu melihat ke arah kami, samar-samar di
balik poninya mata nya yang sedikit bundar itu melirik dari wajahnya yang
sedikit merunduk. Lalu kemudian masuk kedalam indomaret.
Tak
lama hujanpun meredah, tak ingin membuang kesempatan kami segera meluncur
kerumah Angga.
“Ah… akhirnya sampai juga.”
Ujarku di depan rumah bercat kuning itu.
“Yuk masuk..” ajaknya.
Cukup
lama berdiri disana, membuat kaki ku kesemutan dan pegal-pegal. Langit sudah
menghitam namun awan tak lagi membentang, malam ini bintang tampak jelas dan
sungguh indah menghiasi angkasa. Rembulan juga sombong memamerkan sinarnya.
Bercerita
dikamar bersama Angga sedikit membuatku melupakan penak ku tadi, tapi tetap tak
bisa membuatku melupakan bidadari dalam hidupku,… “Dinda, kamu lagi apa yah?”
lagi-lagi aku menanyakan hal yang sama dalam hatiku.
Bagaimana aku bisa
melupakanmu? Entah bagaimana! Kamu seperti angin yang selalu muncul dan
menghilang tiba-tiba dalam fikiranku, kamu seperti obat heroin yang membuatku
terus kecanduan untuk memikirkanmu, membuatku menggali cinta mu lebih dalam
lagi dan terus menghisap cinta semu dari mu sampai mati.
Cinta yang kau rajut
bersamanya kini menjadi terik matahari yang sangat melelahkanku mengejar
fatamorgana cinta di dunia ku yang sungguh fana, berharap dan berharap semoga
fatamorgana itu menjadi sesuatu yang nyata.
Malam ini
sebelum aku tidur dan terbang ke alam mimpi yang tak tau aku apakah itu baik
atau buruk, ku panjatkan sebuah do’a yang aku harap Tuhan mengabulkannya.
“Tuhan… aku menyayanginya, aku sangat
menyayanginya melebihi diriku sendiri, aku ingin membahagiakannya, berikan aku
kesempatan sekali saja untuk meraihnya, untuk menguras rasa cintanya itu dan menggali rasa sayangnya untukku…”
“Aku memang tak seindah mentari yang selalu
meneranginya dalam kegelapan, aku memang bukanlah bulan atau bintang yang indah
yang bersinar terang menemaninya seperti malam ini, aku bukanlah langit senja
yang elok dan elegant, aku tak mungkin seperti diri-Mu, Tuhan yang selalu
sempurna, tapi aku hanya ingin menjadi sosok yang terus ada di saat suka dan
dukanya, menjadikan hal yang tak sempurna menjadi sempurna.”
“Tuhan…ulang kembali masa-masa di mana aku
dekat dengannya… jadikan setiap mimpi indahku bersamanya menjadi sebuah
kenyataan…. jaga dia dimanapun dia berada… aku hanya berharap dalam waktu tak
lama ini aku dan dia bisa bersama, melengkapi sela-sela jari ini yang masih
kosong, bergandeng tangan dan menggores kisah cinta lebih indah…”
Aku titip tanda
hati pada bintang-bintang yang bertaburan malam ini, melingkar di atas rumahmu
dan di tengahnya terisi penuh oleh rembulan malam yang elok. Aku berharap kau
hadir lewat mimpiku malam ini, mengukir namaku sekali saja di hatimu dan
melantunkan simponi-simponi indah dalam ingatanku, mewarnai setiap awan kelam
bersama warna-warna terang, aku berharap kau dengar setiap lantunan do’a ku yang
kutitipkan lewat Tuhan, semoga kau sudi merasakan rasa yang sama seperti rasaku
kini padamu.
Lagi-lagi hatiku
mengajakku untuk pergi ke dunia itu. Duniaku ... dunia fatamorgana. Saat dan
ketika ruang dalam waktu tak henti memanggil satu jiwa. “Dinda” Tapi yang terjadi hanya bayang semata. Saat dan ketika
lorong kesunyian bertemu dengan satu cita. Yang terjadi hanya angan dalam raga.
Cinta ... telah
menjadi dahaga. Cinta ... terlanjur termakna. Maka, biarlah ! Keberadaanmu
termanja oleh rasa. Fatamorgana ... tak hilang. Sang pemakna telah datang.
Jadikannya rasa sayang.
Uuhh sungguh
tinggi khayal membawaku terbang... dan saat ku sadar akan kenyataan, seakan
sayapku menghilang dan gravitasi menarikku jatuh, sungguh sakit tapi indah. Aku
ingin mengatakan ini padamu, walau ku tau aku tak punya keberanian mengatakan
itu langsung pada dirimu.
“Selamat malam Dinda, mimpi yang indah.”

0 komentar:
Posting Komentar